Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2011

Puja di Tengah Deburan Ombak Nan Magis

KOMPAS.com — Berwisata ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, sangatlah belum lengkap rasanya kalau belum mampir ke Pura Batu Bolong yang terletak di Pantai Senggigi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Pura ini dinamakan Batu Bolong karena lokasi puranya terletak di batu karang hitam yang menjorok ke pantai dan memiliki batu bolong di karangnya. Suara ombak membentur batu karang dan deburan ombak air laut pasang surut yang menyentuh pasir. Keunikan batu karang bolong membawa magis tersendiri di pura Hindu tersebut.

Pada waktu sore hari sangat indah pemandangannya. Wisatawan bisa menyaksikan matahari tenggelam. Apabila tidak ada awan, dari kejauhan bisa terlihat Gunung Agung di Bali.

Tampak pula perahu-perahu yang sedang berlayar. Pemandangan yang menakjubkan perpaduan antara pura, karang, ombak, dan perahu layar yang menjadi satu. Sebuah sensasi tersendiri untuk menikmati pesonanya.

Di atas batu karang terdapat dua buah pura. Saat berjalan menuruni anak tangga akan ditemukan pura pertama di bawah pohon rindang. Untuk mencapai pura kedua, pengunjung harus naik tangga di batu karang setinggi 4 meter yang menjorok ke laut. Saat saya sedang berkunjung ke tempat ini, ada upacara persembahan umat Hindu. Tetapi, mereka tidak merasa terganggu dengan datangnya wisatawan. Kami meminta izin memotret dan mereka tidak berkeberatan.

Semua wisatawan sebelum masuk harus memakai selendang kuning yang dilingkarkan di pinggang. Tiket masuk di lokasi wisata ini seikhlasnya saja. Berapa saja boleh dan ditulis di buku tamu. Jadi tidak ada tiket masuk yang resmi.

Lokasi pura di Pantai Senggigi ini sekitar 12 kilometer dari Kota Mataram ke arah utara. Dengan taksi, tarif bisa mencapai sekitar Rp 50.000. Setelah mengunjungi Pura Batu Bolong, wisatawan bisa melanjutkan ke Pantai Senggigi, Bukit Malimbu, dan menyeberang ke Gili Terawang karena satu arah perjalanannya. (Asita DK Suryanto)

Sumber : Kompas.com

Belajar Sejarah di Pasar Rakyat


KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Pasar Kintamani, Bangli, Bali, Minggu (28/8), ini merupakan situs peradaban tempat pertemuan antarmanusia, bukan sekadar tempat terjadinya transaksi antara pedagang dan pembeli।


Nur Hidayati & Yulia Sapthiani

KOMPAS.com - Mari kita jalan-jalan ke Pasar Gede, Solo; Pasar Beringharjo, Yogyakarta; Pasar Ikan, Jakarta; dan Pasar Kintamani, Bali. Dari pasar-pasar itu, orang bisa ”belanja” sejarah. Kita menikmati situs paling nyata untuk melihat perubahan sosial bangsa.

Siang itu cukup terik di Kota Solo. Dari dalam Pasar Gede, terdengar gamelan. Atmosfer Jawa pelan-pelan merambat dan membawa suasana jadi sejuk. Angin semilir pun bertiup dari kisi-kisi bangunan pasar yang dibangun dengan perhitungan saksama oleh Thomas Karsten (1884-1945).

Gamelan di Pasar Gede pada Selasa (18/10/2011) siang itu ditabuh oleh 18 pedagang. Setiap hari pukul 14.00-16.00 sebagian pedagang menutup kios dan los dagangan mereka untuk berlatih menabuh gamelan. Seperangkat gamelan jawa yang tersimpan di satu ruangan pasar dibeli dari hasil iuran dan sumbangan para pedagang setempat.

Bukan hanya berkarawitan. Sejak dua tahun lalu, para pedagang di pasar tersebut juga berolahraga sore dengan melakukan senam, renang, bahkan fitness. Mereka secara bergiliran akan menuju ke lantai dua di sisi timur bangunan pasar untuk berolahraga. ”Kami kan juga mau sehat,” ujar Win, seorang mbakyu bakul buah.

Ruang yang terasa lapang itu melegakan Nuril (34) yang menggandeng dua anaknya, Caca (5) dan Cika (3), serta menggendong Cila (8 bulan) ke pasar. Tak hanya berbelanja jeruk di pedagang langganannya, ia malah disuguhi empat teh botol dingin. Pedagang jeruk yang dikunjunginya tak lain ibu dari bekas muridnya dulu di taman kanak-kanak. Mereka lalu bertukar kabar dalam keriuhan pasar.

Pasar Gede Hardjonagoro—biasa disebut Pasar Gede atau Sargede saja oleh wong Solo—dibangun tahun 1929 di atas tanah milik Keraton Kesunanan Surakarta dan diresmikan setahun kemudian. Pasar ini disebut sebagai salah satu masterpiece Thomas Karsten, arsitek keturunan Belanda yang merancangnya.

Sejarawan dari UNS Solo, Soedarmono, mengingatkan, ”pasar gede” sebenarnya merupakan jejak yang bisa ditemukan di setiap bekas Kerajaan Mataram, seperti Hardjonagoro di Solo, Beringharjo di Yogyakarta, juga pasar di Kotagede yang menjadi cikal bakal Keraton Mataram.

Dalam budaya Mataram, keraton, pasar, dan masjid berhubungan dalam relasi segitiga keseimbangan hidup. ”Pasar sebagai simbol matahari terbit atau kegiatan pagi harus ada di sebelah timur keraton, sedangkan masjid merupakan simbol matahari terbenam yang harus ada di sebelah barat keraton,” ujar Soedarmono.

Pasar ini dibangun di lingkungan permukiman warga peranakan Tionghoa di Solo. Di lokasi yang sama, sebelumnya tumbuh pasar dan kelenteng tempat ibadah warga peranakan itu. Sampai saat ini, Kelenteng Tien Kok Sie berdiri berdampingan dengan pasar. Di Pasar Gede pula, beberapa tahun ini puncak perayaan Imlek digelar dengan lingkungan yang berhias lampion dan diramaikan atraksi barongsai.

Pasar Gede sampai saat ini tetap bertahan sebagai pusat grosir buah. Pasar ini memasok buah-buahan hingga ke Purwodadi, Cepu, Sragen, Kediri, Ngawi, Madiun, Wonogiri, Pacitan, Klaten, dan Yogyakarta.

Seperti juga Pasar Gede, Pasar Beringharjo di Yogyakarta memiliki riwayat ”menyatu” dengan sejarah Keraton Yogyakarta. Lahan di mana Pasar Beringharjo kini berada sudah dijadikan pasar oleh Sultan Hamengku Buwono I pada 1758. Pembangunan fisik pasar itu dilakukan Pemerintah Hindia Belanda pada 1925, sedangkan penyebutan Beringharjo diberikan Sultan Hamengku Buwono IX.

Pasar Beringharjo telah berulang kali dipugar dan diperluas. Sisa bangunan lamanya dapat ditemukan di bagian depan lantai satu. Namun, jejak ”berumur” itu tak bersisa di lantai dua dan tiga. Untuk naik ke lantai atas pasar ini, disediakan eskalator.

”Bangunannya sekarang sudah tidak lagi seperti pasar tradisional, tetapi cara berjualannya tidak modern benar karena pembeli tetap harus pintar menawar,” ujar Guru Besar Sosiologi UGM Tadjudin Noer Effendi.

Menurut Tadjudin, saat ini rasa memiliki masyarakat Yogyakarta terhadap pasar yang bernilai sejarah tinggi itu sudah merosot. ”Beringharjo seperti lebih untuk konsumsi turis yang ingin membeli batik atau cendera mata, bukan buat masyarakat Yogya sendiri,” ujarnya.

Tadjudin berpendapat, hal itu terjadi, selain karena fisik pasarnya ”bersalin rupa”, juga karena sebagian produk yang dijual tak lagi produksi Yogyakarta. Intinya, Beringharjo sedang beringsut memasuki era perubahan, tetapi gamang merumuskan dirinya sebagai pasar yang punya sejarah panjang.

Pasar Ikan

Jika Pasar Gede, Solo, terus menggeliat dan memperbarui ”sistem” kekerabatannya, Pasar Ikan Penjaringan, Jakarta Utara, nyaris tinggal puing. Pasar Ikan sekarang tinggal nama jalan, di mana ada bekas pelelangan ikan, gudang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), dan menara Syahbandar berlokasi.

Di Pasar Ikan, dahulu, tutur Rukiah (66), bekas pedagang ikan di era kejayaan Pasar Ikan, hampir sepanjang hari ramai. Rukiah menunjuk sebuah aula tempat ia pernah berjualan ikan sejak tahun 1965. ”Selain pedagang kecil, juga banyak bos yang suka ikut lelang ikan. Pokoknya ramai, apalagi hari Minggu,” katanya. Selain dari Jakarta, pembeli ikan bahkan berasal dari Bandung, Bogor, dan Bekasi.

Memasuki tahun 2000-an, kondisi berubah total. Nelayan memilih menjual ikan tangkapan mereka ke Muara Angke dan Muara Baru. Pada tahun 2005, bahkan aktivitas pasar ikan nyaris berhenti total. Bangunan seluas 1.000 meter persegi kini sunyi senyap ibarat puing-puing sejarah yang ditinggalkan.

Di sekitar Jalan Pasar Ikan kini tak ubahnya seperti pasar lain di wilayah-wilayah urban. Dipenuhi pedagang pangan dan sandang kebutuhan hidup sehari-hari. Tak ada yang istimewa kecuali bangunan-bangunan tinggalan zaman kolonial yang menjadi tanda peradaban aktivitas pelabuhan besar masa lalu.

Transaksional

Pasar Kintamani di Bali barangkali mewakili satu era di mana pertemuan antara kultur tradisi pedalaman dan perkotaan yang urban begitu kasatmata. ”Jika kita di kota mungkin tanpa sadar, tiba-tiba semua sudah berubah demikian cepat. Mal-mal tumbuh pun kadang kita tak awas,” ujar sosiolog Putu Suasta.

Pasar Kintamani di satu sisi jelas menjadi situs ekonomi yang dibutuhkan untuk menggerakkan kehidupan di pedalaman perbukitan Gunung Batur, tetapi juga menjadi situs sosial yang masih tersisa di Bali. ”Tanpa pasar, sulit membayangkan masyarakat Kintamani bisa hidup dan maju. Tidak saja dalam pengertian ekonomi, tetapi juga peradaban,” ujar Suasta.

Bagaimana sistem kekerabatan yang dibangun di Pasar Gede mampu bertahan sampai sekarang? Mungkin karena sebagian besar pedagang mewariskan kios, los, atau lapak mereka secara turun-temurun.

Selain itu, usaha yang dibangun Kepala Pasar Gede Solo Sujarwadi juga turut andil. Selain membentuk kelompok karawitan Sekar Mayang, ia juga memberikan ruang masuk bagi gaya hidup urban, seperti olahraga, senam, renang, dan kebugaran. ”Sedang disiapkan satu kelompok belajar karawitan yang anggotanya pemulung, kuli panggul, juru parkir, dan pengemudi becak,” kata Sujawardi.

Sistem kekerabatan seperti inilah yang sulit ditemukan di pasar-pasar modern sekarang ini. Relasi antarmanusia senantiasa dimaknai secara ekonomi, dengan pertimbangan untung dan rugi. Kehidupan semacam ini, menurut Suasta, bisa berpengaruh dalam segala sisi kehidupan manusia. ”Makanya politik pun sekarang transaksional semua,” katanya. (Putu Fajar Arcana)

Sumber : Kompas.com

Bali Kembali Jadi Lokasi "Shooting" Film Hollywood



Puskompub Kemenparekraf
Menteri Pariwisata dan Ekononomi Kreatif Mari Elka Pangestu bersama sutradara Rob Cohen, Direktur Perfilman Kemenparekraf Syamsul Lussa, dan Kepala Pusat Komunikasi Publik I Gusti Ngurah Putra dalam tinjauan ke lokasi syuting film "I, Alex Cross" di pesisir timur Pantai Jasri, Candidasa, Karangasem, Bali

KARANGASEM, KOMPAS.com — Setelah tahun lalu menjadi lokasi shooting film Eat, Pray, Love yang dibintangi Julia Roberts, kali ini Bali kembali dipilih sebagai lokasi film dengan judul I, Alex Cross. Film yang disutradarai oleh Rob Cohen ini dibuat berdasarkan karakter Alex Cross yang sering muncul dalam novel populer karya James Patterson.

Rob Cohen yang terkenal lewat karya Fast and The Furious ini memilih pesisir timur Pantai Jasri, Candidasa, Karangasem, Bali, sebagai lokasi untuk adegan klimaks film. Tak bisa dimungkiri, sejak tahun 1930-an, Bali memang memiliki daya tarik tersendiri bagi para penulis dan sutradara film karena pesona alamnya.

"Pemilihan lokasi shooting di Indonesia merupakan suatu kesempatan untuk memperkenalkan destinasi dan budaya Indonesia, memberikan kesempatan kepada industri film (industri kreatif) di Indonesia untuk berpartisipasi pada pembuatan film ini," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu saat mengunjungi lokasi shooting film tersebut di Karangasem, Sabtu (22/10/2011).

Di samping itu, Mari menuturkan, hal ini juga akan memperkuat branding atau image Indonesia di mata dunia sehingga diharapkan akan berdampak pada kunjungan wisatawan mancanegara.

Aktor utama film yang akan dirilis pada pertengahan tahun 2012 ini adalah Tyler Perry. Dia berperan sebagai seorang detektif bernama Alex Cross, yang melacak keberadaan pembunuh bernama Gilles Mercier.

Tokoh Gilles Mercier diperankan oleh Jean Reno, aktor Perancis yang terkenal antara lain karena perannya di film Leon: The Professional, Godzilla, The Da Vinci Code, dan The Pink Panther. Film yang difasilitasi oleh Bali Film Center ini rencananya akan melibatkan 35 kru lokal dan 20 pemeran pendukung dari Indonesia. (Puskompub)

Sumber : Kompas.com

Selasa, 25 Oktober 2011

Karapan Sapi Di Pulau Madura

Selain terkenal dengan Sate Madura dan garamnya, Pulau Madura memiliki banyak kebudayaan yang masih terus dilestarikan. Salah satunya adalah tradisi Karapan sapi yang merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi. Karapan sapi sudah ada sebelum abad XV Masehi.

Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh sampai lima belas detik.

Karapan sapi merupakan acara yang prestisius bagi masyarakat Madura, pemilik sapi karapan akan merasa status sosialnya terangkat apabila sapinya bisa menjadi juara. Hewan memamah biak ini juga dijadikan alat investasi selain emas dan uang. Tak mengherankan, bila para pemilik sapi karapan akan mengerahkan segala daya upayanya untuk membuat sapi-sapinya menjadi pemenang dalam setiap musim karapan. Sekadar diketahui, sapi karapan umumnya dari Pulau Sapudi [baca: Atlet Sapi di Pesta Karapan]. Sejak dulu, pulau kecil yang terletak di ujung Timur Pulau Madura itu memang gudangnya sapi bibit unggul.

Kejuaraan dimulai dari tingkat Kecamatan dilanjutkan ke tingkat Kabupaten dan diteruskan sampai ketingkat Karisidenan. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.

Kerapan sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura yang dinamakan saronen. Benar-benar meriah, apalagi alunan musik seronen menonjolkan perpaduan bunyi gendang, terompet, dan gong yang disertai tarian para pemainnya. Para pemusik seronen ini memang sengaja disewa oleh para pemilik sapi. Terutama untuk menyemangati anggota kontingen beserta sapi-sapinya sebelum karapan dimulai. [swaberita.com]

Ritual Kebo-Keboan : Kerbaupun Ikut Menari

Para kerbau manusia seperti kesurupan mengejar siapapun yang mengambil bibit padi yang ditanam. Masyarakat berebut, ikut berkelit untuk mendapatkan bibit padi itu karena dipercaya bisa digunakan sebagai tolak balak maupun keberuntungan. Hari semakin larut. Para ibu masih sibuk memasak kue dan menyiapkan perlengkapan sesaji di dapur. Berbagai jenis hewaan ternak telah terlelap tidur di kandangnya masing-masing. Di sisi lain, suara ramai namun damai di sepanjang jalan utama desa.

Laki-laki tua-muda, anak-anak, dan perempuanpun ikut membantu menyiapkan dan memasang hiasan perlengkapan upacara yang terdiri dari pala gumantung (buah-buahan yang bergantung, seperti pisang, jeruk, durian, dan mangga), pala kependhem (umbi-umbian dalam tanah, seperti ubi kayu, ketela, kacang tanah, kentang, talas, ganyong, jahe, dan lengkuas), dan pala kesampir (polong-polongan, seperti kacang panjang, kecipir, kara, dan bunci). Kesemuanya ditata dan dihias rapi sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan.

Itulah gambaran suasana yang terlihat pada awal sebuah upacara ritual kesuburan yang dilakukan masyarakat Using di Desa Alas Malang, upacara tersebut bertujuan untuk mendapatkan keselamatan, penyemhuhan, kesuburan, dan pembersihan diri dari Tuhan Yang Maha Esa.

Keesokan hari, pemandangan di desa itu sungguh menakjubkan. Berbagai pernik ornamen hiasan sudah terpajang, umbul-umbul, killing (baling-baling kicir angin), paglak (dangau tinggi di tengah sawah) terlihat megah di hamparan sawah dengan latar belakang Pegunungan Raung, Ijen, dan Gunung Merapi. Semua warga desa sudah siap dengan kue tradisional serta sesaji untuk upacara ritual. Hampir semua orang tampak anggun dengan busana adatnya.

Prosesi upacara diawali dengan selamatan di tengah jalan utama desa. Semua panganan diletakkan di atas tikar, lembar-lembar daun, nasi tumpeng di atas ancak (tempat yang terbuat dari batang daun pisang dan bambu). Lengkap dengan lauk pauk dan sayur yang ditata dalam takir (tempat yang terbuat dari daun pisang) serta masakan khas pecel pitik (ayam panggang yang diurap kelapa) telah siap. Seluruh elemen kampung terlibat, dari orang dewasa hingga anak-anak.

Doa dipimpin oleh tokoh agama Kyai, kemudian nasi tumpeng dan kue dibagikan kepada para pengunjung dan warga setempat sebagai berkat. Tiap-tiap warga menyiapkan kue untuk para kerabat atau pengunjung yang datang. Selanjutnya acara Ider bumi (prosesi mengelilingi kampung dari hilir hingga ke hulu kampung). Upacara bersama ini begitu unik dan menarik sekaligus memiliki dimensi dari masyarakat yang akar kepercayaan agraris dan spiritualnya masih kuat.

Acara ritual ini melibatkan seluruh elemen di kampung, mulai dari laki-laki, perempuan, tua-muda, dan anak-anak sampai sanak famili yang berada di luar kampung. Bahkan hampir seluruh kesenian adat yang ada di Banyuwangi juga terlibat. Ada gandrung, barong, janger, patrol, balaganjur, angklung paglak, jaranan, kuntulan, dan wayang kulit. Upacara ini tidak melulu seni pertunjukan terpadu tapi juga sebagai seni instalasi komunal yang memperlihatkan energi kualitas dan spiritual bersama.

Pada acara Ider Bumi, ritual Kebo-Keboan ini diawali dengan visualisasi Dewi Sri (Dewi Padi) yang ditandu oleh beberapa pengawal dengan pakaian khas. Puluhan laki-laki bertubuh kekar dengan dandanan dan bertingkah aneh seperti kerbau dihalau oleh para petani yang membawa hasil panennya. Suasana kian meriah karena diiringi alunan musik tradisional khas Using yang hinggar binggar.

Pada bagian akhir upacara adalah prosesi membajak sawah dan menanam bibit padi. Para kerbau manusia seperti kesurupan mengejar siapapun yang mengambil bibit padi yang ditanam. Masyarakat berebut, ikut berkelit untuk mendapatkan bibit padi itu karena dipercaya bisa digunakan sebagai tolak bala maupun keberuntungan. Kegiatan berakhir pada tengah hari. Sementara pada sore hari dan malam hari, kesenian tradisional disajikan, termasuk pementasan wayang kulit senuilam suntuk.

Ritual Kebo-Keboan adalah salah satu ragam seni budaya tradisi Banyuwangi disamping Ritual Seblang, Petik Laut, Rebo Pungkasan, Endog-endogan, Barong Ider Bumi yang telah diagendakan secara rutin oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Bagi yang senang berpetualang, alam Banyuwangi menyediakan goa-goa angker dan hewan liar di Alas Purwo, ombak yang spektakuler di Pantai Plengkung, kawah yang menakjubkan di Gunung Ijen, mengintip Penyu bertelur di Sukamade dan masih banyak lagi panorama alam lain seperti air terjun, sungai berkelok-kelok serta sejuknya udara perkebunan cengkeh, coklat, karet, dan kopi. [perempuan.com]

UPACARA BARONG

Setelah Upacara Penyucian (Pasupati) Barong dan Rangda Sidakarya di Pura Dalem Karang Boma, Sawangan, Nusa Dua. Barong dan Rangda (Ratu Ayu) Sidakarya Mepajar di Pura Dalem Sidakarya. Mepajar merupakan Upacara dalam bentuk tarian sakral yang bertujuan untuk menjaga kesucian, kesejahteraan, dan keharmonisan warga penyungsung dan wilayah sekitarnya.

Sebelum Barong dan Rangda Sidakarya Mepajar, ditampilkan terlebih dahulu tarian Telek dan Jauk.

Tari Telek adalah tarian yang melambangkan keayuan/kelembutan dan keramah-tamahan seseorang. Tarian ini biasanya dibawakan oleh 4 orang. Telek ini sebagai sarana untuk memohon keselamatan bagi segala makhluk hidup di muka bumi dari ancaman marabahaya.

Tari Jauk: tarian ini menggambarkan seorang raksasa yang sedang berkelana. Penarinya pria, mengenakan busana yang terdiri dari awiran yang berlapis-lapis, ditambah dengan gelungan jauk dan kaos tangan yang berkuku panjang. Tarian ini lebih bersifat improvisasi dengan struktur koreografi yang fleksible.

Tari jauk bersifat keras seperti namanya, gerakannya pun bringas. energik dan gamelan yang mengirinya bertempo cepat. Tarian ini mempunyai standar gerakan sendiri. Topeng yang di pakai adalah topeng yang berwarna merah, yang melambangkan keberingasan sang raksasa.

Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. DiIihat dari wujudnya, Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi dan boma. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, ditempeli kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan), ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak.

Untuk menarikannya Barong ini diperlukan dua orang penari yang disebut Juru Saluk / Juru Bapang, satu penari di bagian kepala d an yang lainnya di bagian pantat /ekornya. Tari Barong Keket ini melukiskan pertarungan antara kebajikan (dharma) dan kejahatan (adharma) yang merupakan dua hal yang selalu berlawanan (rwa bhineda). Tarian ini merupakan peninggalan kebudayaan pra-Hindu yang menggunakan boneka berwujud binatang berkaki empat atau manusia purba yang memiliki kekuatan magis. Topeng Barong dibuat dari kayu yang diambil dari tempat-tempat angker seperti kuburan, oleh sebab itu Barong merupakan benda sakral yang sangat disucikan oleh masyarakat Hindu di Bali. Secara mitologis, Barong Ket diidentikkan dengan raja hutan alias Banaspati Raja yang umumnya dikeramatkan di Pura Dalem yang ada dimasing-masing desa.

Rangda adalah ratu dari para leak dalam mitologi Bali . Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan penyihir jahat melawan Barong , yang merupakan simbol kebaikan.

Diceritakan bahwa kemungkinan besar Rangda berasal dari Ratu Mahendradatta yang hidup di pulau Jawa pada abad ke-11 . Beliau diasingkan oleh raja Dharmodayana karena dituduh melakukan perbuatan sihir terhadap permaisuri kedua raja tersebut. Menurut legenda ia membalas dendam dengan menguasai setengah kerajaan tersebut, yang kemudian menjadi miliknya serta milik putra Dharmodayana, Erlangga . Kemudian ia digantikan oleh seseorang yang bijak. Rangda juga berarti janda .

Rangda sangatlah penting dalam mitologi Bali. Pertempurannya melawan Barong atau melawan Erlangga sering ditampilkan dalam tari-tarian. Tari ini sangatlah populer dan merupakan warisan penting dalam tradisi Bali. Rangda digambarkan sebagai seorang wanita dengan rambut panjang yang acak-acakan serta memiliki kuku panjang. Wajahnya menakutkan dan memiliki gigi yang tajam. [balilu
wih.blogspot.com]

Grebeg Besar Demak

Demak merupakan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya Raden Patah. Disamping sebagai pusat pemerintahan, Demak sekaligus menjadi pusat penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Bukti peninggalan sejarah masih berdiri dengan kukuh sampai sekarang, yaitu Masjid Agung Demak.

Penyebaran agama Islam di pulau Jawa dimulai pada abad XV dan dipelopori oleh Wali Sanga. Berbagai upaya dilakukan oleh para Wali dalam menyebarluaskan agama Islam. Berbagai halangan dan rintangan menghadang, salah satu diantaranya adalah masih kuatnya pengaruh Hindu dan Budha pada masyarakat Demak pada waktu itu. Pada akhirnya agama Islam dapat diterima masyarakat melalui pendekatan kultural para Wali dengan jalan mengajarkan agama Islam melalui kebudayaan/adat istiadat yang telah ada.

Setiap tanggal 10 Dzulhijah umat Islam memperingati Hari Raya Idul Adha dengan melaksanakan Sholat Ied dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban. Pada waktu itu, di lingkungan Masjid Agung Demak diselenggarakan pula keramaian (grebeg) yang disisipi dengan syiar-syiar keagamaan, sebagai upaya penyebarluasan agama Islam oleh Wali Sanga. Sampai saat ini kegiatan tersebut masih tetap berlangsung, bahkan ditumbuh kembangkan.


Prosesi Grebeg Besar Demak


Dalam perkembangannya kemudian, Grebeg Besar Demak pada saat ini diramaikan dengan berbagai kegiatan, yaitu :

* Ziarah ke Makam Sultan Sultan Demak dan Sunan Kalijaga
* Pasar malam rakyat di Tembiring Jogo Indah
* Selamatan Tumpeng Sanga
* Sholat Ied
* Penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga


1. Ziarah ke makam Sultan Sultan Demak & Sunan Kalijaga.
Grebeg Besar Demak diawali dengan pelaksanaan ziarah oleh Bupati , Muspida dan segenap pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Demak, ke makam para Sultan Demak di lingkungan Masjid Agung Demak dan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. Kegiatan ziarah tersebut dilaksanakan pada jam 16.00 wib; kurang lebih 10 (sepuluh) hari menjelang tanggal 10 Dzulhijah.

2. Pasar malam rakyat di Tembiring Joglo Indah .
Untuk meramaikan perayaan Grebeg Besar di lapang an Tembiring Jogo Indah digelar pasar malam rakyat yang dimulai kurang lebih 10 (sepuluh) hari sebelum hari raya Idul Adha dan dibuka oleh Bupati Demak setelah ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak dan Sunan Kalijaga. Pasar malam tersebut dipenuhi dengan berbagai macam dagangan, mulai dari barang barang kebutuhan sehari - hari sampai dengan mainan anak, hasil kerajinan, makanan/minuman, permainan anak-anak dan juga panggung pertunjukkan/hiburan.

3. Selamatan Tumpeng Sanga.
Selamatan Tumpeng Sanga dilaksanakan pada malam hari menjelang hari raya Idul Adha bertempat di Masjid Agung Demak.Sebelumnya kesembilan tumpeng tersebut dibawa dari Pendopo Kabupaten Demak dengan diiringi ulama, para santri, beserta Muspida dan tamu undangan lainnya menuju ke Masjid Agung Demak.Tumpeng yang berjumlah sembilan tersebut melambangkan Wali Sanga. Selamatan ini dilaksanakan dengan harapan agar seluruh masyarakat Demak diberikan berkah keselamatan dan kebahagiaan dunia akhiratdari Allah SWT.

Acara selamatan tersebut diawali dengan pengajian umum diteruskan dengan pembacaan doa. Sesudah itu Kepada para pengun jung dibagikan nasi bungkus. Pembagian nasi bungkus tersebut dimaksudkan agar para pengunjung tidak berebut tumpeng sanga. Sejak beberapa tahun terakhir tumpeng sanga tidak diberikan lagi kepada para pengunjung dan sebagai gantinya dibagikan nasi bungkus tersebut.

Pada saat yang sama di Kadilangu juga dilaksanakan kegiatan serupa, yaitu Selamatan Ancakan, selamatan tersebut bertujuan untuk memohon berkah Kepada Allah SWT agar sesepuh dan seluruh anggota panitia penjamasan dapat melaksnakan tugas dengan lancar tanpa halangan suatu apapun juga.

4. Sholat Ied

Pada tanggal 10 Dzulhijah Masjid Agung dipadati oleh umat Islam yang akan melaksanakan sholat Ied,Pada saat-saat seperti ini Masjid Agung Demak sudah tidak dapat lagi menampung para jama’ah karena penuh sesak dan melebar ke jalan raya, bahkan sebagaian melaksanakan sholat Ied di alun-alun.

Pada kesempatan tersebut Bupati Demak beserta Muspida melaksanakan sholat Ied di Masjid Agung Demak dan dilanjutkan dengan penyerahan hewan qurban dari Bupati Demak kepada panitia.5. Penjamasan Pusaka Peninggalan Sunan Kalijaga.
Setelah selesai Sholat Ied di makam Sunan Kalijaga, Kadilangu dilaksanakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Ka lijaga. Kedua pusaka tersebut adalah Kutang Ontokusuma dan Keris Kyai Cubruk. Konon Kutang Ontokusumo adalah berujud ageman yang dikiaskan sebagai agama Islam. Sedangkan keris Kyai Cubruk adalah keris pegangan santri yang dipakai Sunan Kalijaga setiap kali berdakwah, sebagai piyandel/pendorong semangat berdakwah.

Penjamasan pusaka-pusaka tersebut didasari oleh wasiat Sunan Kalijaga sebagai berikut : “Agemanku,besuk yen aku wis dikeparengake sowan ingkang Maha Kuwaos, selehna neng duwur peturonku. Kejaba kuwi sawise aku kukut, agemanku jamas ana“. Dengan dilaksanakan penjamasan tersebut, diharapkan umat Islam dapat kembali ke fitrahnya dengan mawas diri/mensucikan diri serta meningkatkan iman dan taqwa Kepada Allah SWT.

Prosesi penjamasan tersebut diawali dari Pendopo Kabupaten Demak , dimana sebelumnya dipentaskan pagelaran tari Bedhoyo Tunggal Jiwo. melambangkan “ Manunggale kawula lan gusti “ , yang dibawakan oleh 9 (sembilan) remaja putri.

Dalam perjalanan ke Kadilangu minyak jamas dikawal oleh bhayangkara kerajaan Demak Bintoro “Prajurit Patangpuluhan” dan diiringi kesenian tradisional Demak bersamaan dengan itu Bupati beserta rombongan menuju Kadilangu dengan mengendarai kereta berkuda.

Penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dilaksana kan oleh petugas dibawah pimpinan Sesepuh Kadilangu di dalam cungkup gedong makam Sunan Kalijaga Kadilangu.

Sesepuh dan ahli waris percaya, bahwa ajaran Islam dari Rasulullah Muhammad SAW dan disebarluaskan oleh Sunan Kalijaga adalah benar.Oleh karena itu penjamasan dilakukan dengan mata tertutup. Hal tersebut mengandung makna, bahwa penjamas tidak melihat dengan mata telanjang, tetapi melihat dengan mata hati. Artinya ahli waris keturunan Sunan Kalijaga beserta umat Islam pada umumnya sudah bertekad bulat umtuk menjalankan ibadah dan mengamalkan ajaran Islam dengan sepenuh hati.

Dengan selesainya penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga tersebut, maka berakhir pulalah rangkaian acara Grebeg Besar Demak.[wisatame.blogspot.com]