Rabu, 02 November 2011

ini alasan mengapa tidak perlu dukung komodo di sms kontes New 7 Wonders

Selama beberapa minggu terakhir ini saya bolak-balik dapat SMS dari teman-teman yang menyarankan untuk mendukung Pulau Komodo sebagai salah satu Tujuh Keajaiban versi baru. Caranya cukup mudah dan butuh pulsa hanya satu rupiah per pesan. Sejujurnya saya nggak langsung ambil tindakan mendukung. Bahkan sampai sekarang saya belum kirim SMS.
Bukannya nggak punya pulsa, tapi saya nggak tahu manfaat pasti yang bisa diberikan dari bentuk dukungan ini.
Ada yang bilang dengan menjadikan pulau Komodo sebagai New Seven Wonder maka secara otomatis akan mempromosikan potensi Wisata
Indonesia, khususnya pulau Komodo. Saya kok malah meragukan pernyataan tersebut. emangnya menarik atau tidaknya obyek Wisata
ditentukan oleh label dari organisasi lain. Menurut saya, keaslian obyek Wisata itu sendiri justru yang menjadi daya tarik utama. Biarpun ada organisasi besar yang kasih level the best tapi kalau memang realnya jelek, wisatawan pun nggak akan mau melirik.

KITA BISA PROMOSIKAN POTENSI Wisata SENDIRI

Untuk menghilangkan rasa ragu-ragu ini, saya coba googling dan menemukan beberapa informasi menarik seputar SMS dukungan untuk pulau Komodo। Kontes ini sejak awal memang mengundang pro dan kontra, baik di tingkat pejabat negara maupun marketer di Indonesia। Beberapa fakta diantaranya:

1. Maladewa mundur sebagai salah satu peserta New karena nggak mau diperas oleh panitia. Setahu saya memang demikian. Organisasi yang kasih label New Seven Wonder meminta sejumlah uang kepada para nominator.Tujuannya untuk apa saya juga belum paham, Ini hal yang aneh, mau kasih penghargaan Malah minta uang, Malah justru biasanya yang dapat juara itu yang di kasih .


2. Mantan Menbudpar Jero Wacik pernah menyatakan kalau yayasan yang menjadi Penyelenggara Kontes Nwew Seven Wonders tidak bisa dimintai pertanggungjawaban. Bahkan UNESCO pun tidak mendukung kompetisi New 7 Wonders. Nah, kalau organisasi sebesar PBB saja nggak mendukung kontes macam ini, lalu apa kita mau bunuh diri dengan membeli label palsu.

3. Indonesia pernah dicoret secara sepihak dari kompetisi New 7 Wonders karena tidak bisa menjadi tuan rumah penyelenggaraan kompetisi dengan biaya sekitar 400 miliar rupiah. What? 400 miliar? Dana segede itu apa nggak lebih bermanfaat kalau dipakai untuk kebutuhan pendidikan anak jalanan? Kontes produk kapitalisme macam ini justru berpeluang membuat negara kita jadi lebih miskin.

Makanya, saya merasa bersyukur karena belum sempat kirim SMS dukungan buat pulau Komodo untuk dijadikan lokasi Tujuh Keajaiban Dunia yang baru. Kalau mau jujur nih, tanpa diminta pun pulau itu sudah menjadi Keajaiban Dunia. Habitat asli komodo cuma ada disana, dan itulah daya tarik utama wisata pulau Komodo. Kita nggak perlu beli label dari orang luar untuk promosikan potensi wisata dalam negeri. Saya menghimbau jangan mau dibohongi organisasi nggak jelas macam penyelenggara itu.

Bagaimana dengan Anda, apakah masih mau kirim SMS dukungan untuk Pulau Komodo sebagai New Seven Wonder?

Sabtu, 29 Oktober 2011

Temukan Pasir Unik di Pantai Tanjung Aan

Kompas.com/Riana Afifah Pantai Tanjung Aan, Lombok, NTB

KOMPAS.com – Tidak ada yang menyangkal bahwa Lombok, Nusa Tenggara Barat, memiliki banyak pantai yang indah dan kerap dikunjungi oleh para wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Laut berwarna biru jernih dan hamparan pasir putih dapat ditemukan di Lombok. Namun pantai yang memiliki dua jenis pasir dalam satu tempat, pastilah Tanjung Aan tempatnya.

Pantai yang terletak di Lombok bagian selatan ini memiliki tekstur yang sangat unik. Di pantai ini, Anda akan mendapati pasir yang berbentuk seperti butiran merica sampai ke bagian bibir pantai. Kemudian tampak sebuah bukit kecil yang dapat dinaiki oleh para pengunjung. Di balik bukit kecil tersebut, pengunjung tidak akan lagi menemukan pasir dengan bentuk butiran merica lagi melainkan hamparan pasir putih yang sangat halus.

“Saya juga bingung kenapa bisa begini ya. Bersebelahan tapi jenis pasirnya beda begini. Pemandangannya juga bagus di sini,” ungkap salah satu pengunjung asal Belanda, Paula yang datang bersama putranya ke pantai ini.

Suasana yang tenang juga menjadi pilihan bagi para wisatawan yang datang ke tempat ini. Wajar saja, di sekitar lokasi ini sama sekali tidak ada tempat penginapan yang berdiri. Hanya hamparan padang rumput tempat warga melepas hewan ternaknya yang terlihat di jalan menuju Pantai Tanjung Aan. Umumnya, para wisatawan datang ke lokasi ini untuk bermain air, berjemur, memotret atau surfing.

Namun bagi wisatawan yang ingin sering berkunjung ke lokasi ini dapat memilih tempat penginapan terjangkau yang tersedia di sekitar Pantai Kuta Lombok. Pantai dengan pemandangan yang menawan ini memang tidak terlalu jauh dengan Pantai Kuta Lombok. Jika tempat penginapan berada di Mataram, maka butuh waktu selama 1,5 jam untuk sampai ke Pantai Tanjung Aan dengan menggunakan kendaraan.

Sayangnya, terkadang suasana tenang untuk menikmati indahnya pemandangan pantai kerap terusik oleh para penduduk lokal yang menjajakan dagangannya berupa cinderamata khas Lombok. Bahkan para penduduk lokal ini tidak segan terus mengejar para wisatawan sampai ke bibir pantai.

Tidak hanya itu, jika ingin menaiki bukit kecil yang memisahkan kedua jenis pasir di Tanjung Aan ini maka siapkan uang Rp 2000। Karena, anak-anak kecil yang merupakan penduduk lokal menarik iuran pada wisatawan yang naik dengan membawa kardus kecil bertuliskan “Naik Rp. 2000”.

Sumber kompas.com

Puja di Tengah Deburan Ombak Nan Magis

KOMPAS.com — Berwisata ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, sangatlah belum lengkap rasanya kalau belum mampir ke Pura Batu Bolong yang terletak di Pantai Senggigi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Pura ini dinamakan Batu Bolong karena lokasi puranya terletak di batu karang hitam yang menjorok ke pantai dan memiliki batu bolong di karangnya. Suara ombak membentur batu karang dan deburan ombak air laut pasang surut yang menyentuh pasir. Keunikan batu karang bolong membawa magis tersendiri di pura Hindu tersebut.

Pada waktu sore hari sangat indah pemandangannya. Wisatawan bisa menyaksikan matahari tenggelam. Apabila tidak ada awan, dari kejauhan bisa terlihat Gunung Agung di Bali.

Tampak pula perahu-perahu yang sedang berlayar. Pemandangan yang menakjubkan perpaduan antara pura, karang, ombak, dan perahu layar yang menjadi satu. Sebuah sensasi tersendiri untuk menikmati pesonanya.

Di atas batu karang terdapat dua buah pura. Saat berjalan menuruni anak tangga akan ditemukan pura pertama di bawah pohon rindang. Untuk mencapai pura kedua, pengunjung harus naik tangga di batu karang setinggi 4 meter yang menjorok ke laut. Saat saya sedang berkunjung ke tempat ini, ada upacara persembahan umat Hindu. Tetapi, mereka tidak merasa terganggu dengan datangnya wisatawan. Kami meminta izin memotret dan mereka tidak berkeberatan.

Semua wisatawan sebelum masuk harus memakai selendang kuning yang dilingkarkan di pinggang. Tiket masuk di lokasi wisata ini seikhlasnya saja. Berapa saja boleh dan ditulis di buku tamu. Jadi tidak ada tiket masuk yang resmi.

Lokasi pura di Pantai Senggigi ini sekitar 12 kilometer dari Kota Mataram ke arah utara. Dengan taksi, tarif bisa mencapai sekitar Rp 50.000. Setelah mengunjungi Pura Batu Bolong, wisatawan bisa melanjutkan ke Pantai Senggigi, Bukit Malimbu, dan menyeberang ke Gili Terawang karena satu arah perjalanannya. (Asita DK Suryanto)

Sumber : Kompas.com

Belajar Sejarah di Pasar Rakyat


KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Pasar Kintamani, Bangli, Bali, Minggu (28/8), ini merupakan situs peradaban tempat pertemuan antarmanusia, bukan sekadar tempat terjadinya transaksi antara pedagang dan pembeli।


Nur Hidayati & Yulia Sapthiani

KOMPAS.com - Mari kita jalan-jalan ke Pasar Gede, Solo; Pasar Beringharjo, Yogyakarta; Pasar Ikan, Jakarta; dan Pasar Kintamani, Bali. Dari pasar-pasar itu, orang bisa ”belanja” sejarah. Kita menikmati situs paling nyata untuk melihat perubahan sosial bangsa.

Siang itu cukup terik di Kota Solo. Dari dalam Pasar Gede, terdengar gamelan. Atmosfer Jawa pelan-pelan merambat dan membawa suasana jadi sejuk. Angin semilir pun bertiup dari kisi-kisi bangunan pasar yang dibangun dengan perhitungan saksama oleh Thomas Karsten (1884-1945).

Gamelan di Pasar Gede pada Selasa (18/10/2011) siang itu ditabuh oleh 18 pedagang. Setiap hari pukul 14.00-16.00 sebagian pedagang menutup kios dan los dagangan mereka untuk berlatih menabuh gamelan. Seperangkat gamelan jawa yang tersimpan di satu ruangan pasar dibeli dari hasil iuran dan sumbangan para pedagang setempat.

Bukan hanya berkarawitan. Sejak dua tahun lalu, para pedagang di pasar tersebut juga berolahraga sore dengan melakukan senam, renang, bahkan fitness. Mereka secara bergiliran akan menuju ke lantai dua di sisi timur bangunan pasar untuk berolahraga. ”Kami kan juga mau sehat,” ujar Win, seorang mbakyu bakul buah.

Ruang yang terasa lapang itu melegakan Nuril (34) yang menggandeng dua anaknya, Caca (5) dan Cika (3), serta menggendong Cila (8 bulan) ke pasar. Tak hanya berbelanja jeruk di pedagang langganannya, ia malah disuguhi empat teh botol dingin. Pedagang jeruk yang dikunjunginya tak lain ibu dari bekas muridnya dulu di taman kanak-kanak. Mereka lalu bertukar kabar dalam keriuhan pasar.

Pasar Gede Hardjonagoro—biasa disebut Pasar Gede atau Sargede saja oleh wong Solo—dibangun tahun 1929 di atas tanah milik Keraton Kesunanan Surakarta dan diresmikan setahun kemudian. Pasar ini disebut sebagai salah satu masterpiece Thomas Karsten, arsitek keturunan Belanda yang merancangnya.

Sejarawan dari UNS Solo, Soedarmono, mengingatkan, ”pasar gede” sebenarnya merupakan jejak yang bisa ditemukan di setiap bekas Kerajaan Mataram, seperti Hardjonagoro di Solo, Beringharjo di Yogyakarta, juga pasar di Kotagede yang menjadi cikal bakal Keraton Mataram.

Dalam budaya Mataram, keraton, pasar, dan masjid berhubungan dalam relasi segitiga keseimbangan hidup. ”Pasar sebagai simbol matahari terbit atau kegiatan pagi harus ada di sebelah timur keraton, sedangkan masjid merupakan simbol matahari terbenam yang harus ada di sebelah barat keraton,” ujar Soedarmono.

Pasar ini dibangun di lingkungan permukiman warga peranakan Tionghoa di Solo. Di lokasi yang sama, sebelumnya tumbuh pasar dan kelenteng tempat ibadah warga peranakan itu. Sampai saat ini, Kelenteng Tien Kok Sie berdiri berdampingan dengan pasar. Di Pasar Gede pula, beberapa tahun ini puncak perayaan Imlek digelar dengan lingkungan yang berhias lampion dan diramaikan atraksi barongsai.

Pasar Gede sampai saat ini tetap bertahan sebagai pusat grosir buah. Pasar ini memasok buah-buahan hingga ke Purwodadi, Cepu, Sragen, Kediri, Ngawi, Madiun, Wonogiri, Pacitan, Klaten, dan Yogyakarta.

Seperti juga Pasar Gede, Pasar Beringharjo di Yogyakarta memiliki riwayat ”menyatu” dengan sejarah Keraton Yogyakarta. Lahan di mana Pasar Beringharjo kini berada sudah dijadikan pasar oleh Sultan Hamengku Buwono I pada 1758. Pembangunan fisik pasar itu dilakukan Pemerintah Hindia Belanda pada 1925, sedangkan penyebutan Beringharjo diberikan Sultan Hamengku Buwono IX.

Pasar Beringharjo telah berulang kali dipugar dan diperluas. Sisa bangunan lamanya dapat ditemukan di bagian depan lantai satu. Namun, jejak ”berumur” itu tak bersisa di lantai dua dan tiga. Untuk naik ke lantai atas pasar ini, disediakan eskalator.

”Bangunannya sekarang sudah tidak lagi seperti pasar tradisional, tetapi cara berjualannya tidak modern benar karena pembeli tetap harus pintar menawar,” ujar Guru Besar Sosiologi UGM Tadjudin Noer Effendi.

Menurut Tadjudin, saat ini rasa memiliki masyarakat Yogyakarta terhadap pasar yang bernilai sejarah tinggi itu sudah merosot. ”Beringharjo seperti lebih untuk konsumsi turis yang ingin membeli batik atau cendera mata, bukan buat masyarakat Yogya sendiri,” ujarnya.

Tadjudin berpendapat, hal itu terjadi, selain karena fisik pasarnya ”bersalin rupa”, juga karena sebagian produk yang dijual tak lagi produksi Yogyakarta. Intinya, Beringharjo sedang beringsut memasuki era perubahan, tetapi gamang merumuskan dirinya sebagai pasar yang punya sejarah panjang.

Pasar Ikan

Jika Pasar Gede, Solo, terus menggeliat dan memperbarui ”sistem” kekerabatannya, Pasar Ikan Penjaringan, Jakarta Utara, nyaris tinggal puing. Pasar Ikan sekarang tinggal nama jalan, di mana ada bekas pelelangan ikan, gudang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), dan menara Syahbandar berlokasi.

Di Pasar Ikan, dahulu, tutur Rukiah (66), bekas pedagang ikan di era kejayaan Pasar Ikan, hampir sepanjang hari ramai. Rukiah menunjuk sebuah aula tempat ia pernah berjualan ikan sejak tahun 1965. ”Selain pedagang kecil, juga banyak bos yang suka ikut lelang ikan. Pokoknya ramai, apalagi hari Minggu,” katanya. Selain dari Jakarta, pembeli ikan bahkan berasal dari Bandung, Bogor, dan Bekasi.

Memasuki tahun 2000-an, kondisi berubah total. Nelayan memilih menjual ikan tangkapan mereka ke Muara Angke dan Muara Baru. Pada tahun 2005, bahkan aktivitas pasar ikan nyaris berhenti total. Bangunan seluas 1.000 meter persegi kini sunyi senyap ibarat puing-puing sejarah yang ditinggalkan.

Di sekitar Jalan Pasar Ikan kini tak ubahnya seperti pasar lain di wilayah-wilayah urban. Dipenuhi pedagang pangan dan sandang kebutuhan hidup sehari-hari. Tak ada yang istimewa kecuali bangunan-bangunan tinggalan zaman kolonial yang menjadi tanda peradaban aktivitas pelabuhan besar masa lalu.

Transaksional

Pasar Kintamani di Bali barangkali mewakili satu era di mana pertemuan antara kultur tradisi pedalaman dan perkotaan yang urban begitu kasatmata. ”Jika kita di kota mungkin tanpa sadar, tiba-tiba semua sudah berubah demikian cepat. Mal-mal tumbuh pun kadang kita tak awas,” ujar sosiolog Putu Suasta.

Pasar Kintamani di satu sisi jelas menjadi situs ekonomi yang dibutuhkan untuk menggerakkan kehidupan di pedalaman perbukitan Gunung Batur, tetapi juga menjadi situs sosial yang masih tersisa di Bali. ”Tanpa pasar, sulit membayangkan masyarakat Kintamani bisa hidup dan maju. Tidak saja dalam pengertian ekonomi, tetapi juga peradaban,” ujar Suasta.

Bagaimana sistem kekerabatan yang dibangun di Pasar Gede mampu bertahan sampai sekarang? Mungkin karena sebagian besar pedagang mewariskan kios, los, atau lapak mereka secara turun-temurun.

Selain itu, usaha yang dibangun Kepala Pasar Gede Solo Sujarwadi juga turut andil. Selain membentuk kelompok karawitan Sekar Mayang, ia juga memberikan ruang masuk bagi gaya hidup urban, seperti olahraga, senam, renang, dan kebugaran. ”Sedang disiapkan satu kelompok belajar karawitan yang anggotanya pemulung, kuli panggul, juru parkir, dan pengemudi becak,” kata Sujawardi.

Sistem kekerabatan seperti inilah yang sulit ditemukan di pasar-pasar modern sekarang ini. Relasi antarmanusia senantiasa dimaknai secara ekonomi, dengan pertimbangan untung dan rugi. Kehidupan semacam ini, menurut Suasta, bisa berpengaruh dalam segala sisi kehidupan manusia. ”Makanya politik pun sekarang transaksional semua,” katanya. (Putu Fajar Arcana)

Sumber : Kompas.com